Rabu, 27 November 2013

BICARA BENAR : MEMOAR OEI TJOE TAT

Kapita Selekta 21 November 2013

Pembicara : Bapak Yosep Stanley Adi Prasetyo


 Cover Buku Memoar Oei Tjoe Tat
Kelas Kapita Selekta Fikom Untar kelas D pada Kamis, 21 November 2013  mengikuti sharing di kelas bedah buku tentang “OEY TJOE TAT” yang di bahas oleh sang editor yaitu Bapak Yosep Stanley Adi Prasetyo dari KKPK ( Koalisis Keadilan dan Pengungkapan Pengadilan). Acara ini merupakan kerjasama Fikom Untar dengan KKPK yang di adakan oleh BEM Fikom Untar, Elwi Gito yang juga merupakan alumni Fikom Untar sekaligus saat ini aktif menjadi anggota KKPK. Acara ini berlangsung dari pukul 13.30 WIB di Gedung utama Kampus Untar I lantai 11. Dengan di hadiri oleh sekitar 60 orang mahasiswa dan beberapa dosen Fikom Untar. Bapak Yosep Adi Prasetyo menjelaskan mengenai  perannya dalam menulis buku ini, karena baginya menarik untuk mengangkat kisah seorang peranakan Tionghoa Oei Tjoe Tat untuk di tulis ke dalam sebuah buku.

Kisah tersebut di awali pada kerusuhan anti Tionghoa padaa 10 Mei 1963, yang dulunya suku Tionghoa sangat didiskriminasi, yang kemudian etnis Tionghoa tidak bisa masuk ke perguruan tinggi negeri, kemudian beliau lah yang berinisiatif untuk membangun yayasan dan di namai Universitas Republika pada saat itu. Hingga pada masa puncaknya,  beliau menjadi " PEMBANTU PRESIDEN SOEKARNO ", yaitu sebagai Menteri Negara diperbantukan kepada Presidium Kabinet Dwikora. Beliau adalah salah seorang anggota Komisi Pencari Fakta yang dibentuk Presiden Soekarno untuk mengetahui berapa banyak korban yang jatuh sebagai epiloog peristiwa berdarah G30S, dimana terjadi balasdendam yang sangat berdarah terhadap orang-orang yang dituduh sebagai anggota-anggota PK.

Keingintahuannya mengenai Oei Tjoe Tat bermula dari berita – berita yang muncul di tv, kemudian  membaca otobiografi mengenai Oei Tjoe Tat. Karena keinginannya yang begitu mendalam, lewat salah satu kenalannya, Bapak  Yoseph Adi Prasetyo dikenalkan kepada beliau pada tahun 1986.

Kariernya berakhir pada tanggal 13 Maret 1966, saat beliau dikenakan tahanan rumah untuk selanjutnya menjadi seorang TAPOL, Belaiu tidak pernah terbukti terlibat dalam peristiwa G30S/pki, karena beliau memang bukanlah seorang Komunis. Oei Tjoe Tat dan masih banyak lagi tokoh yang lainnya, harus menjadi tahanan polisi sebagai kosekuensi kesetiaannya kepada Presiden Soekarno.


Oei Tjoe Tat bukanlah seorang Komunis, hal ini nampak dari begitu banyaknya pejabat-pejabat yang masih mau bersahabat dengan beliau setelah beliau dibebaskan dari penjara politik, hal ini akan kita dapati dalam buku ini tidak hanya dalam bentuk kata-kata, dalam buku ini terdapat foto Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang berkunjung ke rumahnya, kemudian Wakil Presiden Adam Malik, bahkan beliaulah yang mendesak Presiden Soeharto agar segera membebaskan Oei Tjoe Tat., lalu diceritakan juga bagaimana masih cukup banyak tamu yang hadir dalam acara pernikahan anak beliau, padahal banyak yang tidak diundang, termasuk Gubernur DKI jakarta, Ali Sadikinpun hadir.


Memoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno diterbitkannya pada usianya yang ke-73 untuk memperingati pesta emas hari pernikahannya. Namun pada September 1995, atas anjuran Fosko '66 (Forum Studi dan Komunikasi '66), buku ini dilarang beredar oleh pemerintah Indonesia di bawah Presiden Soeharto. Jaksa Agung setuju dan mengatakan bahwa buku ini akan "meracuni pikiran generasi muda".



Setelah Bapak Yoseph menjelaskan semua penggambaran dan latar belakang mengenai buku Memoar Oei Tjoe Tat , mahasiswa dan para tamu yang hadir di persilakan untuk mengajukan pertanyaan. Mulai dari buku tersebut, mengenai PKI tahun 1965, hingga keberadaan etnis Tionghoa pada saat itu.

Acara bedah buku Memoar Oei Tjoe Tat berlangsung hingga pukul 16.00 WIB dengan antusias para mahasiswa yang kebanyakan adalah Mahasiswa Fikom Untar dan para dosen yang hadir. Acara di akhiri dengan pemberian cindera mata dari KKPK kepada Fikom Untar.


Sekilas Mengenai Pengarang . . .

     Oei Tjoe Tat (lahir di Solo, Jawa Tengah, 26 April 1922 ; meninggal dunia 1996 di Jakarta) semasa hidupnya adalah seorang politikus. Karier politiknya dimulai semenjak lulus dari Universiteit van Indonesië (sekarang Universitas Indonesia) di Batavia pada tahun 1948.
     Ia terpilih wakil presiden  Partai Demokrat Tionghoa Indonesia (PDTI) pada tahun 1953, bergabung dalam  Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki) pada tahun 1954 dan sejak tahun 1960 aktif dalam Partai Indonesia (Partindo) serta menjadi salah satu pengurus pusatnya.
     Pada tahun 1963 ia diangkat menjadi Menteri Negara, dan kemudian sempat menjadi salah satu anggota Kabinet Dwikora yang dijuluki sebagai Kabinet 100 Menteri. Setelah peristiwa Gestok tahun 1965 Oei ditahan oleh pemerintah orde baru dan dipenjarakan selama 10 tahun, tanpa melalui proses pengadilan sampai tahun 1976. Pada tahun 1976 Oei akhirnya dikenai tuduhan terlibat dalam Gestok, namun tuduhan itu tidak pernah terbuktikan. Akhirnya Oei dibebaskan dari tahanan pada tahun 1977.

Sekilas Mengenai Pembicara . . .


     Saat ini Bapak Yosep Stanley Adi Prasetyo aktif sebagai anggota Komnas HAM. Lelaki kelahiran Malang, 29 Juni 1959 akrab dengan panggilan Bapak Stanley ini menempuh studinya di Universitas Kristen Satya Wacana Sarjana Teknik Elektro.

Karir dan Organisasi:
§  Direktur Eksekutif Institut Studi Arus Informasi (ISAI)
§  Anggota Majelis Etik AJI (2003-2005)
§  Anggota Pokja Reformasi Polri (2003)
§  Anggota Tim Adhoc Kerusuhan 13-14 Mei 1998 (2003)
§  Dosen di Universitas Kristen Satya wacana 
§  Pendiri Aliansi Jurnalis Independen
                                                §  Pendiri KBR68H
(CF)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar