Rabu, 11 Desember 2013

Kekerasan Simbolik

Speaker : Ibu Endah Muwarni
Di dalam Hidup kita sehari-hari, kita tidak pernah lepas dengan yang namanya “media”. Seperti contohnya iklan yang kita temui dimana-mana. Tanpa kita sadari, media mencoba menggunakan tanda-tanda dan simbol-simbol yang mengandung kekerasan, yang disebut dengan “kekerasan simbolik”.
Hal inilah yang di jelaskan oleh Ibu Endah Muwarni dalam kelas kapita selekta hari Kamis, 5 Desember 2013 di Fakultas Ilmu Komunikasi. Beliau menjelaskan betapa banyaknya kekerasan simbolik yang hadir di hidup kita namun kita tidak menyadarinya.

Jadi, apa yang di maksud dengan kekerasan simbolik?
Media lewat iklan mencoba menggunakan tanda-tanda dan simbol-simbol yang mengandung “kekerasan simbolik”, bukan dalam arti menyerang atau menyakiti fisik, tapi makna dari tanda-tanda itu. Contohnya: Iklan susu WRP yang megatakan bahwa tubuh langsing adalah bentuk ideal untuk seorang wanita, secara tidak langsung iklan tersebut memiliki kuasa terhadap publik sehingga mereka bisa melakukan kekerasan simbolik yang ingin menyatakan bahwa tubuh langsing untuk wanita adalah yang paling baik dan mengintimidasi wanita yang gemuk, yang tidak memiliki tubuh ideal. Lalu iklan mengubah sikap kita untuk mengikutinya dan iklan sebagai media menjadi yang dominan di hidup kita dan dianggap memiliki kekuasaan. Sehingga seolah-olah iklan memiliki kontak points  dengan publik.




Pergeseran Fungsi Iklan, Menurut Pollay:
1.    Fungsi Informasional : Iklan memberitahukan konsumen tentang karakteristik iklan tersebut dengan memberi tahukan sesuatu yang sifatnya informasi.
2.    Fungsi Trasnformasional: Iklan berusaha mengubah sikap-sikap yang di miliki oleh konsumen terhadap merek, gaya hidup, pola belanja dan lain sebagainya.

Iklan Dalam Konteks Pemikiran Ilmuan Sosial
Menurut Baudrillad, iklan adalah bagian dari sebuah fenomenal sosial bernama consumer society. Objek dalam iklan ridaklah berdiri sendiri, tapi di bentuk oleh sebuah tanda (sign system) . Analisis Baudrillad berkontribusi dalam mengembangkan anaisa mengenai produksi dan reproduksi pesan yang melibatkan peran dari citra (image) pada masyarakat kontemporer.

Menurut Hall, dalam studi media massa mencakup hubungan antara produk budaya yang secara ideologis dikodekan dengan strategi khalayak untuk mendekode (decoding) pesan-pesan tersebut.
Pemikiran ini menjadi semacam kritik untuk publik yang lemah mengenai dampak media.

Bagaimana Iklan Memproduksi Pesan?
Baudrillad menjelaskan bahwa iklan sebagai wacana di kodekan (coded discaurse) dan dangat melekat pada sebuah produk, tidak memiliki hubungan dengan realitas (hyperreal)

Sementara Barthes menjelaskan bahwa  tanda dapat mempresentasikan sebuah realitas atau sesuatu yang hanya bisa di mengerti lewat situasi sosial yang sama. Sementara sebagai sebuah  myth, signs dalam iklan dianggap mempresentasikan pesan ideologis dari si pembuat iklan (biasanya kelas borjuis).

Bagaimana Pesan Tersebut di Terima Oleh Publik?
Hall melihat ada 3 tipe dari persepsi khalayak mengenai pesan iklan yang diterimanya:
1.    Dominant Hegemonic: Publik mengartikan pesan sesuai dengan apa yang ingin disampaikan oleh media/ pengiklan.
2.    Negotiated: Publik mengambil posisi terbatas dalam mengartikan pesan yang ia terima dari iklan yang disampaikan, artinya publik memiliki pemikiran dalam menerjemahkan makna dari pesan yang di sampaikan oleh iklan.
3.    Oppositional: Publik benar-benar memiliki pemikiran yang berseberangan dengan pesan yang di sampaikan oleh iklan, yang artinya menolak sama sekali pesan yang ingin disampaikan oleh iklan.
Ketiga tipe diatas merupakan proses decoding yang di lakukan oleh publik yang di pengaruhi oleh budaya, politik, hubungan mereka terhadap jaringan kekuasaan yang lebih luas dan akses terhadap teknologi media massa (radio,tv,internet,dll).

Memahami Konsep Kekerasan Simbolik
Menurut pandangan Bordieu, segala sesuatu yang dilakukan di rumah, di sekolah, di media atau dimanapun memiliki kekerasan simbolik selama hal tersebut memiliki kuasa untuk menentukan sistem nilai atas pelakunya.
Iklan menjadi sebuah mesin kekerasan simbolik yang bisa menciptakan kategorisas, klasifikasi dan definisi sosial tertentu sesuai kepentingan kelas atau kelompok dominan.
Contoh: Sabun giv banhyak yang bilang sabun nya pembantu, sehingga hal tersebut seperti diakui/ di iyakan oleh publik
Dengan kata lain, iklan sebagai bagian dari media di hidup kita telah memeberikan banyak sekali kekerasan simbolik terhadap diri kita, sehingga secara tidak langsung kita meregulasi (mengatur) diri sendiri.




Selasa, 03 Desember 2013

Public Relations dalam membangun hubungan dengan khalayak (melalui Website dan Event)

Kapita Selekta 28 November 2013
Speaker: Yugih Setyanto


Membangun hubungan dengan masyarakat adalah hal yang penting bagi seorang Public Relations. Peran teknologi yaitu website bisa membantu Public Relations dalam membangun hubungan dengan khalayaknya.Selain website, hal yang bisa dilakukan PR adalah dengan mengadakan event


Pada perkuliahan kemarin, Bapak Yugih Setyanto yang merupakan dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara membahas tentang Public Relations dalam membangun hubungan dengan khalayaknya melalui website dan event.

Menurut David M.Scott
-         - Public Relations mengirim Press Release ke media agar dimuat
-         - Padahal sedikit sekali yang akan dijadikan berita oleh wartawan
-         - Ketika akan menulis artikel, seorang wartawan mencoba mencari bahan dari mesin pencari

Wartawan itu harus mencari berita, tidak harus Public Relations yang memberikan artikel.. berita tersebut harus mempunyai value..
Teorinya adalah Public Relations “memborbardir” media dengan Press Release yang sebenarnya bukan dibutuhkan oleh wartawan.
Contoh: kalau di Untar, Public Relations Untar yang baru berjalan sekitar 3-4 bulan memborbardir dengan mengirimkan Press Release kepada media. Ini dengan tujuan supaya media “ngeh” bahwa UNTAR mempunyai Public Relations. Supaya siapa tahu salah satu dari Press Release itu ada yang menarik media.

Public Relations (PR) dan Publikasi
PR mempunyai dua cara untuk melakukan publikasi yaitu dengan beriklan dan menggunakan media. Keberhasilan PR diukur dari banyaknya kipling berita mengenai perusahaan. Melalui website hal tersebut sudah mulai berubah-ubah. Perusahaan dapat langsung berkomunikasi dengan khalayak lewat website. Sekarang, media lah yang selalu mencari berita dengan cara melihat website perusahaan.

 


Apakah media konvensional media dianggap penting oleh PR? Media konvensional yang kita ketahui terbagi menjadi media cetak yang diantaranya adalah koran dan majalah. Lalu media elektronik yaitu televisi dan radio. Ternyata media konvensional ini masih berperan dalam mempublikasikan suatu hal. Contoh : peran TV, koran, majalah dalam mengangkat nama sebuah produk (merek).

Saat ini PR harus mampu “bercerita” melalui online agar menarik media dan pada akhirnya media akan menulis tentang kita. Oleh karna itu salah satu tugas PR adalah harus mampu mengemas sebuah bentuk tulisan/pesan yang menarik.

Aturan-aturan lama dalam PR
·           - Media adalah satu-satunya alat publikasi
·           -  PR berkomunikasi dengan wartawan melalui press release
·           -  Press release hanya dibaca redaktur dan wartawan
·           -  Perusahaan harus punya berita yang signifikan dulu untuk dibuat Press Release
·           -  Press Release harus mengutip pendapat para pakar, analis, pelanggan, dll (orang ketiga)
·           -  Berita di media hanyalah satu-satunya cara bagi khalayak untuk mengetahui Press Release perusahaan
·           -  Kipling merupakan cara mengukur efektifitas sebuah Press Release

Agar perusahaan dapat dipublikasikan melalui media terkenal tentu tidak mudah, namun bisa dibantu oleh cyber PR. Namun ada pengecualian, kita bisa mendapat perhatian dari media besar apabila perusahaan kita sudah sangat besaar, orang terkenal, pemerintah. Contoh : Jokowi kalau melakukan kegiatan tidak perlu mengundang media juga banyak media yang akan datang. Artinya selama kita belum jadi terkenal maka kita harus berusaha menceritakan sendiri tentang diri kita dan website tentunya akan sangat membantu.
      
Menurut Wimar Witoelar ada tiga hal dasar yang harus dipikirkan bagi PR untuk melakukan Integrated Marketing Communications adalah
                 1.       Penetapan “key messages” atau “tagline” yang mudah diingat oleh masyarakat.
                 2.       Penetapan “target market”.
                 3.       Menentukan media yang akan digunakan.

 Sekarang ini PR juga menggunakan ajang event untuk membangun hubungan dengan khalayak. Contoh :
       - McD mempromosikan dengan targetnya anak-anak. McD berusaha mendekatkan diri dengan anak-anak dengan cara bekerjasama dengan Taman Sekolah Kanak-Kanak.
-          - Minuman Hydro Coco mensponsori event lari.
-          - Soyjoy (makanan cemilan rendah kalori) mensponsori acara “hidup sehat bersama diabetes”. Ini dilatarbelakangi karena kebiasaan orang Indonesia suka makan nasi dan langsung tidur, dimana nasi memiliki kadar glukosa yang paling tinggi.
-          - Indosat membuat event konser di Parkir Timur Senayan untuk mempromosikan produknya kepada khalayak.

      Penggunaan cyber PR dan event ternyata telah terbukti ampuh untuk sebuah perusahaan membangun hubungan dengan khalayak. Terbukti dengan banyak Public Relations perusahaan-perusahaan terkenal yang juga memakai website untuk menulis artikel dan mengadakan event untuk promosi perusahaan tersebut. Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi teman-teman yang membaca. :) (NP)