Speaker : Ibu Endah Muwarni
Di dalam Hidup kita sehari-hari, kita tidak pernah lepas dengan yang namanya “media”. Seperti contohnya iklan yang kita temui dimana-mana. Tanpa kita sadari, media mencoba menggunakan tanda-tanda dan simbol-simbol yang mengandung kekerasan, yang disebut dengan “kekerasan simbolik”.
Di dalam Hidup kita sehari-hari, kita tidak pernah lepas dengan yang namanya “media”. Seperti contohnya iklan yang kita temui dimana-mana. Tanpa kita sadari, media mencoba menggunakan tanda-tanda dan simbol-simbol yang mengandung kekerasan, yang disebut dengan “kekerasan simbolik”.
Hal
inilah yang di jelaskan oleh Ibu Endah Muwarni dalam kelas kapita selekta
hari Kamis, 5 Desember 2013 di Fakultas Ilmu Komunikasi. Beliau menjelaskan
betapa banyaknya kekerasan simbolik yang hadir di hidup kita namun kita tidak
menyadarinya.
Jadi, apa yang di
maksud dengan kekerasan simbolik?
Media
lewat iklan mencoba menggunakan tanda-tanda dan simbol-simbol yang mengandung
“kekerasan simbolik”, bukan dalam arti menyerang atau menyakiti fisik, tapi
makna dari tanda-tanda itu. Contohnya: Iklan susu WRP yang megatakan bahwa
tubuh langsing adalah bentuk ideal untuk seorang wanita, secara tidak langsung
iklan tersebut memiliki kuasa terhadap publik sehingga mereka bisa melakukan
kekerasan simbolik yang ingin menyatakan bahwa tubuh langsing untuk wanita
adalah yang paling baik dan mengintimidasi wanita yang gemuk, yang tidak
memiliki tubuh ideal. Lalu iklan mengubah sikap kita untuk mengikutinya dan
iklan sebagai media menjadi yang dominan di hidup kita dan dianggap memiliki kekuasaan.
Sehingga seolah-olah iklan memiliki kontak
points dengan publik.
Pergeseran Fungsi
Iklan, Menurut Pollay:
1.
Fungsi
Informasional : Iklan memberitahukan konsumen tentang karakteristik iklan
tersebut dengan memberi tahukan sesuatu yang sifatnya informasi.
2.
Fungsi
Trasnformasional: Iklan berusaha mengubah sikap-sikap yang di miliki oleh
konsumen terhadap merek, gaya hidup, pola belanja dan lain sebagainya.
Iklan Dalam Konteks Pemikiran
Ilmuan Sosial
Menurut
Baudrillad, iklan adalah bagian dari sebuah fenomenal sosial bernama consumer society. Objek dalam iklan
ridaklah berdiri sendiri, tapi di bentuk oleh sebuah tanda (sign system) . Analisis Baudrillad berkontribusi dalam
mengembangkan anaisa mengenai produksi dan reproduksi pesan yang melibatkan
peran dari citra (image) pada
masyarakat kontemporer.
Menurut
Hall, dalam studi media massa mencakup hubungan antara produk budaya yang
secara ideologis dikodekan dengan strategi khalayak untuk mendekode (decoding)
pesan-pesan tersebut.
Pemikiran
ini menjadi semacam kritik untuk publik yang lemah mengenai dampak media.
Bagaimana Iklan Memproduksi
Pesan?
Baudrillad
menjelaskan bahwa iklan sebagai wacana di kodekan (coded discaurse) dan dangat
melekat pada sebuah produk, tidak memiliki hubungan dengan realitas (hyperreal)
Sementara
Barthes menjelaskan bahwa tanda dapat
mempresentasikan sebuah realitas atau sesuatu yang hanya bisa di mengerti lewat
situasi sosial yang sama. Sementara sebagai sebuah myth, signs dalam iklan dianggap
mempresentasikan pesan ideologis dari si pembuat iklan (biasanya kelas borjuis).
Bagaimana Pesan Tersebut di
Terima Oleh Publik?
Hall
melihat ada 3 tipe dari persepsi khalayak mengenai pesan iklan yang
diterimanya:
1.
Dominant
Hegemonic: Publik mengartikan pesan sesuai dengan apa yang ingin disampaikan
oleh media/ pengiklan.
2.
Negotiated:
Publik mengambil posisi terbatas dalam mengartikan pesan yang ia terima dari
iklan yang disampaikan, artinya publik memiliki pemikiran dalam menerjemahkan
makna dari pesan yang di sampaikan oleh iklan.
3.
Oppositional:
Publik benar-benar memiliki pemikiran yang berseberangan dengan pesan yang di
sampaikan oleh iklan, yang artinya menolak sama sekali pesan yang ingin
disampaikan oleh iklan.
Ketiga
tipe diatas merupakan proses decoding yang di lakukan oleh publik yang di
pengaruhi oleh budaya, politik, hubungan mereka terhadap jaringan kekuasaan
yang lebih luas dan akses terhadap teknologi media massa
(radio,tv,internet,dll).
Memahami
Konsep Kekerasan Simbolik
Menurut pandangan Bordieu, segala sesuatu yang dilakukan di rumah, di sekolah, di media atau dimanapun memiliki kekerasan simbolik selama hal tersebut memiliki kuasa untuk menentukan sistem nilai atas pelakunya.
Menurut pandangan Bordieu, segala sesuatu yang dilakukan di rumah, di sekolah, di media atau dimanapun memiliki kekerasan simbolik selama hal tersebut memiliki kuasa untuk menentukan sistem nilai atas pelakunya.
Iklan
menjadi sebuah mesin kekerasan simbolik yang bisa menciptakan kategorisas,
klasifikasi dan definisi sosial tertentu sesuai kepentingan kelas atau kelompok
dominan.
Contoh: Sabun giv banhyak yang bilang sabun nya pembantu, sehingga hal tersebut seperti diakui/ di iyakan oleh publik
Contoh: Sabun giv banhyak yang bilang sabun nya pembantu, sehingga hal tersebut seperti diakui/ di iyakan oleh publik
Dengan
kata lain, iklan sebagai bagian dari media di hidup kita telah memeberikan
banyak sekali kekerasan simbolik terhadap diri kita, sehingga secara tidak
langsung kita meregulasi (mengatur) diri sendiri.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar