Kapita Selekta - 19 September 2013
Berbeda dari pertemuan yang sudah-sudah, kelas Kapita Selekta kali ini kedatangan pembicara yang cantik. Beliau adalah Ibu Sarah Santi M.Si. Ibu Sarah mengangkat tema marketing politik dan memulai kelas dengan pertanyaan berikut ini:
Apakah
marketing politik hanya berbicara mengenai tokoh politik?
Tidak.
Marketing politik bukan hanya sekedar menampilkan profil tokoh politik.
Tahukah
teman-teman, belanja iklan politik tahun 2008 naik sebesar 66% dibanding tahun
2007.
Pertanyaan berikutnya adalah:
Marketing dalam politik, apakah contradiction in terminis?
Untuk
menjawab pertanyaan tersebut, mari kita ulas mengenai disiplin dan praktik ilmu
politik dan ilmu marketing.
DISIPLIN ILMU POLITIK: Memusatkan perhatian pada keyakinan
prinsip-prinsip, ide-ide dan perdebatan, bagaimana seharusnya dunia ini
dijalankan.
Contoh:
NEOLIB-WTO-keran impor kedelai-harga kedelai, pengusaha tempe. Perdebatan
dampak pada petani kedelai, pengusaha tempe dst.
PRAKTIK POLITIK: Relasi Antar institusi, proses
legislasi dan perumusan kebijakan politik. Termasuk juga bagaimana memenangkan
pemilu dan mempertahankan kekuasaan.
DISIPLIN ILMU MARKETING: Memusatkan perhatian pada bagaimana
entitas bisnis berperilaku di dunia usaha dalam memperoleh keuntungan
Apabila
politik didekatkan dengan marketing akan timbul masalah. Marketing politik di
Indonesia adalah hal yang baru yang diterapkan pada tahun 1999 setelah terjadi
reformasi.
Jadi, marketing
dalam ilmu politik TIDAK contradiction in
terminis --> apabila teman-teman mengubah pandangan dan cara berpikir tentang
marketing. Bahwa marketing bukan sekedar transaksi. Pandangan yang kedua yang
harus diubah adalah bahwa politik itu sendirilah yang harus berubah dalam
mendekatkan diri dengan pemilih / voters.
Kalau
pemilih jaman sekarang disuruh memilih partai mana yang akan dipilih nanti?
Biasanya jawabannya tidak tahu atau who cares. Berbeda sekali dengan orang
jaman dahulu.
Para pemilih terbagi kedalam 4 tipe:
Pemilih
rasional
Pemilih
kritis
Pemilih skeptik
Pemilih
tradisional
Dari keempat
jensi tersebut lebih banyak yang masuk dalam kategori pemilih rasional.
Ideologisnya rendah namun orientasi “policy problem solving” nya tinggi.
Perubahan dalam dunia politik terdiri dari 3 aspek:
1. Aktor politik: Para partai, para tokoh, para lembaga kepenting-kepentingan lainnya.
Biasanya membutuhkan pemilih yang loyal.
2. Media
Media bukan lagi menyajikan fakta 5W + 1H. media menjadi mediatisasi.
Memberikan frame kepada pemirsa dan
pendengarnya dengan memberikan berita-berita yang mereka tampilkan.
3. Voters/Pemilih
Munculnya pemilih rasional
Politik
sekarang adalah tentang persepsi. Oleh karena itu harus ada politic impression
management. Disinilah tugas PR.
Berikut adalah Pergeseran
Marketing dan Politik dan titik temu keduanya:
Transaksional
-> relasional -> kehidupan politik dituntut transparan
Produk ->
Brand/merk -> gelombang demokratisasi
Berbasis
Produk -> berbasis konsumen -> Emansipatoris dalam berpolitik
Titik temu :
Relasi jangka panjang, loyalitas, komunikasi dua arah, citra/image, program,
kerja.
Dari
pembahasan diatas, kita dapat menarik kesimpulan sebagai berikut : Iklan
politik adalah marketing politik yang digunakan untuk kampanye pemilu. Kampanye
politik sendiri sebenarnya untuk relasi jangka panjang, agar pemilihnya loyal,
dengan komunikasi dua arah, untuk citra mereka dan program kerja mereka.
Masalahnya
adalah mereka melakukannya tidak sesuai dengan janji. Mereka hanya melakukan
kampanye agar terpilih. Padahal marketing politik pun tidak menjamin kemenangan
elektoral. Marketing politik hanya dapat membantu menyusun program kerja saja.
Marketing politik menyediakan tools bagaimana menjaga hubungan dengan pemilih
untuk membangun kepercayaan dan selanjutnya memperoleh dukungan suara.
Marketing politik
juga memiliki dampak negatif, diantaranya:
1. Amerikanisasi dunia politik
2. Kehidupan berpolitik hanya melahirkan
komersialisasi politik yang mereduksi arti berpolitik itu sendiri.
3. Menjauhkan masyarakat atas ikatan
ideology sebuah partai dengan massa/ konstituennya.
Bagaimana teman-teman? Pembahasan yang menarik bukan. Kami mengucapkan banyak terimakasih kepada Ibu Sarah yang membuka pemahaman kami mengenai marketing yang benar dan yang seharusnya di dalam politik.
Sedikit mengenai Ibu Sarah Santi, sejak Juni 2013 lalu, beliau bekerja di Indikator Politik Indonesia. Sebelum berkarier disana, sudah banyak pengalaman pekerjaan yang dilalui Ibu Sarah. Berikut sebagian dari riwayat kariernya:
- Universitas Indonusa Esa Unggul
- Freedom Institute (2005-2008)
- Fox Indonesia (2008-2010)
- Lembaga Survei Indonesia (2010- Juni 2013)
Terimakasih Ibu Sarah Santi M.Si, teruslah berkarya bagi bangsa! :)






