Rabu, 30 Oktober 2013

Media Sosial Hubungannya dengan Media Konvensional: Verifikasi Berita

     
       Kamis, 24 Oktober 2013 Mahasiswa Fikom UNTAR mata kuliah Kapita Selekta kali ini kedatangan dosen tamu dari Redaktur Media Indonesia yang bernama Jerome Eugene Wirawan. Pada minggu ini, dosen tamu akan membahas mengenai Media Sosial Hubungannya dengan Media Konvensinal dan juga mengenai Verifikasi Berita.


         Bpk. Eugene menunjukkan kepada kami sebuah film denga judul Ressurecting The Champ mengenai seorang jurnalis bernama Erik yang menuliskan berita mengenai seorang atlet juara dunia yang pada akhirnya menjadi seorang gembel. Kemudian hal tersebut membawanya menjadi seseorang yang sukses sebagai presenter pertandingan tinju yang bernama "Show Time" di sebuah stasiun tv. 


          Beliau menjelaskan Pilar pertama dari jurnalistik adalah fakta itu suci bukan berdasarkan sebuah opini.Kemudian  Pilar kedua adalah kebenaran, tapi dilihat dari mananya versi keberan sebuah berita itu di munculkan di media. 

Contoh: 
versi 1 : "Lumpur lapindo mengganti rugi ke 100 kepala keluarga ." -Tv One-
versi 2 : "100 kepala keluarga sudah dapat ganti rugi, tapi 1000 kepala keluarga lainnya merugi" - RCTI-
Sering kali fakta itu memang benar di muat di media mengenai pemberitaan tersebut, namun sering kali kebenaran itu di monopoli oleh kepentingan tertentu.

          Dari cuplikan film tersebut terdapat kata-kata "There is no journalism anymore, There is no news". Benar bahwa pilar pertama jurnalistik tidak mudah dilakukan pada prakteknya. Maka itu dikatakan bahwa fakta itu suci.


          Untuk menunjukkan kerja seorang jurnalistik itu adalah menunjukkan sebuah fakta, beliau memberika foto-foto korban bom boston, perang suriah yang terlihat sangat sadis. Dalam Keputusan Dewan Pers tahun 2006 Pasal 4 bahwa  wartawan Indonesia tidak memuat berita fitnah, sadis, cabul. Tapi pada prakteknya jurnalis mungkin pernah melihat berita sadis yang nyata, tapi karena d atur oleh keputusan Dewan Pers maka yang ada di media tidak senyata yang di lapangan.


         Dalam pembahasannya, beliau juga menjelaskan bahwa keberadaan media konvensional yang begitu sangat di atur, namun di sisi lain karena kemajuan teknologi, kini media sosial justru tidak dapat menyaring berita-berita yang muncul dan di tulis oleh seseorang. Karena itulah kemunculan media sosial ada yang membawa dampak negatif jika dibandingkan dengan media konvensional, dimana yang pertama adalah pemberitaan tersebut belum tentu benar, dan yang kedua adalah sejauh mana pemberitaan tersenut dapat di pertanggung jawabkan dari sisi sumber ataupun mengenai real atau tidaknya berita tersebut.


         Setelah membahas mengenai perbandingan Media sosial dan hubungannya dengan media konvensional dan juga tugas seorang jurnalistik, Beliau memberikan tugas mengenai verifikasi berita. Beikut verifikasi berita yang akan di jelaskan oleh kelompok kami:


    Gossip merupakan rumor, dan eksistensinya tidak terlepas dari kehidupan para selebritis. Efek yang muncul dari sebuah gossip sangatlah beragam, dan media bisa menjadi salah satu pemicu timbulnya sebuah gossip. Sebut saja internet, teknologi yang satu ini merupakan media baru tercepat untuk melahirkan sebuah berita – atau dalam hal ini, sebuah gossip.

         Banyaknya hoax atau gossip yang beredar di internet bisa saja menipu banyak orang. Misalnya saja, berita kematian para selebritis yang sempat muncul di internet: Jackie Chan, Rowan Atkinson dan – yang belakangan ini baru saja terjadi – Macaulay Culkin, sang pemeran film Home Alone. Aktor yang kini sudah tidak cilik lagi, beberapa waktu ini muncul namanya di internet. Hoax mengenai berita kematiannya menyebar luas, walau sebenarnya kebenarannya belum dapat diverifikasi. Berikut ini kami berhasil mengetahui kebenaran berita tersebut:



Selasa, 01 Oktober 2013

The Power of Media: Use and Abuse



Oleh : Bapak Irwan Julianto
Kamis, 26 September 2013

Pada pertemuan kemarin, di kelas Kapita Selekta, kami kembali kedatangan seorang dosen tamu, sama seperti minggu-minggu sebelumnya. Beliau bernama Irwan Julianto, seorang wartawan Kompas, dan minggu ini Beliau mendapat tugas untuk mengajar di kelas kami atas permintaan Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara, Bapak Eko Harry Susanto. Beliau telah bekerja di surat kabar nasional Kompas sejak 1981, berarti kurang lebih sudah 32 tahun beliau berkiprah di dunia jurnalistik.

                Setelah memperkenalkan dirinya, Beliau memulai materi pada hari itu dengan memperkenalkan kembali sejarah komunikasi, hingga kemudian ia mulai bercerita mengenai sejarah media. Komunikasi, merupakan hal yang dibutuhkan oleh setiap manusia, bahkan sejak zaman dahulu. Hal ini ditandai dengan adanya bahasa, tanda isyarat, hingga gambar-gambar syang ditemukan oleh para ilmuwan yang membuktikan eksistensi manusia purba dan kemampuan mereka dalam berkomunikasi. Tidak dipungkiri, sejak saat itu dunia komunikasi terus berevolusi seiring zaman. Apalagi setelah penemuan kertas, yang membuat jalur komunikasi menjadi semakin mudah.

                Menurut sejarah, media lama menjadi titik awal dunia komunikasi mulai digeluti oleh dunia. Media lama itu sendiri terdiri atas TV, radio, surat kabar, majalah, film, serta buku. Penemuan mesin cetak oleh Alexander Guttenberg menjadi awal kebangkitan era informasi. Sebut saja Injil. Pada saat sebelum mesin cetak ditemukan, setiap orang yang menganut agama kristiani hanya mampu mendengar Injil tanpa dapat memilikinya. Keterbatasan kemampuan pada saat itu membuat Injil menjadi semacam “harta” milik gereja yang tidak dapat dengan mudah dimiliki orang awam. Pemilik Injil hanyalah para imam maupun uskup, dan mereka sendiri pun harus menyalin Injil dengan cara menulis tangan. Penemuan Guttenberg mengubah pemikiran tersebut. Injil bisa dicetak dalam jumlah banyak dan bisa disebarluaskan, hingga Injil tidak menjadi milik gereja saja, namun milik semua orang kristiani.

                Penemuan Guttenberg berkembang menjadi mesin pembuat buku, majalah, dan yang terpenting, surat kabar. Media massa kemudian menjadi era baru berkomunikasi. Setiap orang dapat mengetahui kabar terbaru dari media. Hal ini terus berkembang hingga munculnya media baru, yakni internet. Perkembangan internet menjadi titik awal munculnya media lain, yakni media sosial. Contohnya saja kasus Facebook. Facebook adalah media sosial yang dibuat oleh Mark Zuckerberg, selama ia masih menjadi seorang mahasiswa di sebuah universitas di Amerika. Awalnya Facebook dibuat hanya sebagai akun khusus mahasiswa universitas dimana Mark Zuckerberg menimba ilmu. Namun, lama kelamaan Facebook berkembang menjadi sumber pendapatan Mark Zuckerberg dan saat ini media tersebut terbuka bagi setiap orang. Facebook hanyalah sebuah contoh, sekarang ini banyak sekali media sosial lainnya yang menjadi alat untuk memudahkan komunikasi, sebut saja misalnya Twitter dan MySpace.

Munculnya media sosial dan perkembangan media baru yang semakin maju membuat beberapa media lama kewalahan. Ditandai dengan perkembangan Internet dan teknologi digital, yang merupakan lompatan dan revolusi. Masyarakat informasi pun menjadi masyarakat dengan kultur digital. Kekuasaan dan pengaruh media massa yang tadinya terletak di tangan media, kini berada di tangan massa atau khalayak. Informasi yang tadinya bersifat ”One to many” berubah menjadi ”many to many. Salah satu wujud media baru adalah media sosial, yaitu media yang isinya diciptakan dan didistribusikan lewat interaksi sosial.

Media lama tidak akan mampu bertahan apabila tidak bisa mengikuti perkembangan zaman. Kekurangan yang dimiliki oleh media lama sulit untuk menyaingi kemampuan yang dimiliki oleh media baru. Contohnya saja kasus Washington Post. Menurunnya media lama karena kemampuannya yang kurang interaktif membuat koran Washington Post jatuh. Koran yang sudah terbit selama 136 tahun tersebut awalnya merupakan aset milik keluarga secara turun temurun. Koran ini merupakan yang tertua di Amerika Serikat dan diedarkan di Washington D.C.. Koran ini sudah pernah memenangkan penghargaan Pulitzer Prize sebanyak 47 kali. Sayangnya, aset koran tersebut menurun dan akhirnya dijual di amazon.com dengan harga yang sangat murah, yakni 250 juta dolar Amerika.

Berbicara soal perkembangan media sosial, saat ini masyarakat Indonesia termasuk salah satu pengguna media sosial yang tertinggi di dunia. Hingga tahun 2012:
  Pengguna Twitter   > 19,5 juta akun
  FaceBook:  42,5 juta
  Blog:  5,3 juta

Menurut Straubhaar, ciri-ciri media baru, ada enam:
1) Digital: digitisasi terbukti dapat meningkatkan kualitas transmisi
2) Interactive (Interaktif): Sekarang ada TV, iklan, website interaktif
3) Social media (Media sosial): Yaitu media yang isinya diciptakan dan didistribusikan lewat interaksi sosial.
4) Asynchronous Communication (Komunikasi asinkronik): Konsumsi media bisa dilakukan sesuai waktu yg enak bagi tiap orang
5) Narrowcasting (Menyebar secara sempit): Kini program siaran  TV dan radio dapat dipesan secara khusus sesuai selera pribadi-pribadi.
6) Multimedia: Media-media lama seperti surat kabar dan majalah kini dapat menciptakan platform multimedia dengan video on demand, jurnalisme warga (citizen journalism) dan lain-lain.

Menurut Lister, karateristik media baru: digital, interaktif, hipertekstual, virtual, berjaringan, dan tersimulasi (simulated).(AY)