Kamis, 24 Oktober 2013 Mahasiswa Fikom UNTAR mata kuliah Kapita Selekta kali ini kedatangan dosen tamu dari Redaktur Media Indonesia yang bernama Jerome Eugene Wirawan. Pada minggu ini, dosen tamu akan membahas mengenai Media Sosial Hubungannya dengan Media Konvensinal dan juga mengenai Verifikasi Berita.
Bpk. Eugene menunjukkan kepada kami sebuah film denga judul Ressurecting The Champ mengenai seorang jurnalis bernama Erik yang menuliskan berita mengenai seorang atlet juara dunia yang pada akhirnya menjadi seorang gembel. Kemudian hal tersebut membawanya menjadi seseorang yang sukses sebagai presenter pertandingan tinju yang bernama "Show Time" di sebuah stasiun tv.
Beliau menjelaskan Pilar pertama dari jurnalistik adalah fakta itu suci bukan berdasarkan sebuah opini.Kemudian Pilar kedua adalah kebenaran, tapi dilihat dari mananya versi keberan sebuah berita itu di munculkan di media.
Contoh:
versi 1 : "Lumpur lapindo mengganti rugi ke 100 kepala keluarga ." -Tv One-
versi 2 : "100 kepala keluarga sudah dapat ganti rugi, tapi 1000 kepala keluarga lainnya merugi" - RCTI-
Sering kali fakta itu memang benar di muat di media mengenai pemberitaan tersebut, namun sering kali kebenaran itu di monopoli oleh kepentingan tertentu.
Dari cuplikan film tersebut terdapat kata-kata "There is no journalism anymore, There is no news". Benar bahwa pilar pertama jurnalistik tidak mudah dilakukan pada prakteknya. Maka itu dikatakan bahwa fakta itu suci.
Untuk menunjukkan kerja seorang jurnalistik itu adalah menunjukkan sebuah fakta, beliau memberika foto-foto korban bom boston, perang suriah yang terlihat sangat sadis. Dalam Keputusan Dewan Pers tahun 2006 Pasal 4 bahwa wartawan Indonesia tidak memuat berita fitnah, sadis, cabul. Tapi pada prakteknya jurnalis mungkin pernah melihat berita sadis yang nyata, tapi karena d atur oleh keputusan Dewan Pers maka yang ada di media tidak senyata yang di lapangan.
Dalam pembahasannya, beliau juga menjelaskan bahwa keberadaan media konvensional yang begitu sangat di atur, namun di sisi lain karena kemajuan teknologi, kini media sosial justru tidak dapat menyaring berita-berita yang muncul dan di tulis oleh seseorang. Karena itulah kemunculan media sosial ada yang membawa dampak negatif jika dibandingkan dengan media konvensional, dimana yang pertama adalah pemberitaan tersebut belum tentu benar, dan yang kedua adalah sejauh mana pemberitaan tersenut dapat di pertanggung jawabkan dari sisi sumber ataupun mengenai real atau tidaknya berita tersebut.
Setelah membahas mengenai perbandingan Media sosial dan hubungannya dengan media konvensional dan juga tugas seorang jurnalistik, Beliau memberikan tugas mengenai verifikasi berita. Beikut verifikasi berita yang akan di jelaskan oleh kelompok kami:
Gossip merupakan rumor, dan eksistensinya tidak terlepas dari kehidupan para selebritis. Efek yang muncul dari sebuah gossip sangatlah beragam, dan media bisa menjadi salah satu pemicu timbulnya sebuah gossip. Sebut saja internet, teknologi yang satu ini merupakan media baru tercepat untuk melahirkan sebuah berita – atau dalam hal ini, sebuah gossip.
Banyaknya hoax atau gossip yang beredar di internet bisa saja menipu banyak orang. Misalnya saja, berita kematian para selebritis yang sempat muncul di internet: Jackie Chan, Rowan Atkinson dan – yang belakangan ini baru saja terjadi – Macaulay Culkin, sang pemeran film Home Alone. Aktor yang kini sudah tidak cilik lagi, beberapa waktu ini muncul namanya di internet. Hoax mengenai berita kematiannya menyebar luas, walau sebenarnya kebenarannya belum dapat diverifikasi. Berikut ini kami berhasil mengetahui kebenaran berita tersebut:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar