Kapita Selekta 21 November 2013
Pembicara : Bapak Yosep Stanley Adi Prasetyo
![]() |
| Cover Buku Memoar Oei Tjoe Tat |
Kelas
Kapita Selekta Fikom Untar kelas D pada Kamis, 21 November 2013 mengikuti sharing di kelas bedah buku tentang
“OEY TJOE TAT” yang di bahas oleh sang editor yaitu Bapak Yosep Stanley Adi Prasetyo dari KKPK (
Koalisis Keadilan dan Pengungkapan Pengadilan). Acara ini merupakan kerjasama
Fikom Untar dengan KKPK yang di adakan oleh BEM Fikom Untar, Elwi Gito yang
juga merupakan alumni Fikom Untar sekaligus saat ini aktif menjadi anggota
KKPK. Acara ini berlangsung dari pukul 13.30 WIB di Gedung utama Kampus Untar I
lantai 11. Dengan
di hadiri oleh sekitar 60 orang mahasiswa dan beberapa dosen Fikom Untar. Bapak
Yosep Adi Prasetyo menjelaskan mengenai
perannya dalam menulis buku ini, karena baginya menarik untuk mengangkat
kisah seorang peranakan Tionghoa Oei Tjoe Tat untuk di tulis ke dalam
sebuah buku.
Kisah
tersebut di awali pada kerusuhan anti Tionghoa padaa 10 Mei 1963, yang dulunya
suku Tionghoa sangat didiskriminasi, yang kemudian etnis Tionghoa tidak bisa
masuk ke perguruan tinggi negeri, kemudian beliau lah yang berinisiatif untuk
membangun yayasan dan di namai Universitas Republika pada saat itu. Hingga pada
masa puncaknya, beliau menjadi " PEMBANTU PRESIDEN SOEKARNO ", yaitu
sebagai Menteri Negara diperbantukan kepada Presidium Kabinet Dwikora. Beliau adalah salah seorang anggota
Komisi Pencari Fakta yang dibentuk Presiden Soekarno untuk mengetahui berapa
banyak korban yang jatuh sebagai epiloog peristiwa berdarah G30S, dimana
terjadi balasdendam yang sangat
berdarah terhadap orang-orang yang dituduh sebagai anggota-anggota PK.
Keingintahuannya
mengenai Oei Tjoe Tat bermula dari berita – berita yang muncul di tv,
kemudian membaca otobiografi mengenai
Oei Tjoe Tat. Karena keinginannya yang begitu mendalam, lewat salah satu
kenalannya, Bapak Yoseph Adi Prasetyo dikenalkan
kepada beliau pada tahun 1986.
Kariernya berakhir pada tanggal 13 Maret 1966, saat beliau
dikenakan tahanan rumah untuk selanjutnya menjadi seorang TAPOL, Belaiu tidak
pernah terbukti terlibat dalam peristiwa G30S/pki, karena beliau memang
bukanlah seorang Komunis. Oei Tjoe Tat dan masih banyak lagi tokoh yang
lainnya, harus menjadi tahanan polisi sebagai kosekuensi kesetiaannya kepada
Presiden Soekarno.
Oei Tjoe Tat bukanlah seorang Komunis, hal ini
nampak dari begitu banyaknya pejabat-pejabat yang masih mau bersahabat dengan
beliau setelah beliau dibebaskan dari penjara politik, hal ini akan kita dapati
dalam buku ini tidak hanya dalam bentuk kata-kata, dalam buku ini terdapat foto Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang berkunjung
ke rumahnya, kemudian Wakil Presiden Adam Malik, bahkan beliaulah yang mendesak
Presiden Soeharto agar segera membebaskan Oei Tjoe Tat., lalu diceritakan juga
bagaimana masih cukup banyak tamu yang hadir dalam acara pernikahan anak
beliau, padahal banyak yang tidak diundang, termasuk Gubernur DKI jakarta, Ali
Sadikinpun hadir.
Memoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno diterbitkannya pada
usianya yang ke-73 untuk memperingati pesta emas hari pernikahannya. Namun pada
September 1995, atas anjuran Fosko '66 (Forum Studi dan Komunikasi '66), buku
ini dilarang beredar oleh pemerintah Indonesia di bawah Presiden Soeharto. Jaksa Agung setuju dan mengatakan bahwa buku ini akan
"meracuni pikiran generasi muda".
Setelah Bapak Yoseph menjelaskan semua penggambaran dan latar
belakang mengenai buku Memoar Oei Tjoe Tat , mahasiswa dan para tamu yang hadir
di persilakan untuk mengajukan pertanyaan. Mulai dari buku tersebut, mengenai
PKI tahun 1965, hingga keberadaan etnis Tionghoa pada saat itu.
Acara bedah buku Memoar
Oei Tjoe Tat berlangsung hingga pukul 16.00 WIB dengan antusias para
mahasiswa yang kebanyakan adalah Mahasiswa Fikom Untar dan para dosen yang
hadir. Acara di akhiri dengan pemberian cindera mata dari KKPK kepada Fikom
Untar.
Sekilas Mengenai Pengarang . . .
Oei Tjoe Tat (lahir di Solo, Jawa Tengah, 26 April 1922 ; meninggal dunia 1996 di Jakarta) semasa hidupnya adalah seorang politikus. Karier politiknya dimulai semenjak lulus dari Universiteit van Indonesiƫ (sekarang Universitas Indonesia) di Batavia pada tahun 1948.
Ia terpilih wakil presiden Partai Demokrat Tionghoa Indonesia (PDTI) pada tahun 1953, bergabung dalam Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki) pada tahun 1954 dan sejak tahun 1960 aktif dalam Partai Indonesia (Partindo) serta menjadi salah satu pengurus pusatnya.
Pada tahun 1963 ia diangkat menjadi Menteri Negara, dan kemudian sempat menjadi salah satu anggota Kabinet Dwikora yang dijuluki sebagai Kabinet 100 Menteri. Setelah peristiwa Gestok tahun 1965 Oei ditahan oleh pemerintah orde baru dan dipenjarakan selama 10 tahun, tanpa melalui proses pengadilan sampai tahun 1976. Pada tahun 1976 Oei akhirnya dikenai tuduhan terlibat dalam Gestok, namun tuduhan itu tidak pernah terbuktikan. Akhirnya Oei dibebaskan dari tahanan pada tahun 1977.
Sekilas Mengenai Pembicara . . .
Saat ini Bapak Yosep Stanley Adi Prasetyo aktif sebagai anggota Komnas HAM.
Lelaki kelahiran Malang, 29 Juni 1959 akrab dengan panggilan Bapak Stanley ini
menempuh studinya di Universitas Kristen Satya Wacana Sarjana Teknik Elektro.
Karir dan
Organisasi:
§ Direktur
Eksekutif Institut Studi Arus Informasi (ISAI)
§ Anggota
Majelis Etik AJI (2003-2005)
§ Anggota
Pokja Reformasi Polri (2003)
§ Anggota
Tim Adhoc Kerusuhan 13-14 Mei 1998 (2003)
§ Dosen di
Universitas Kristen Satya wacana
§ Pendiri
Aliansi Jurnalis Independen
§ Pendiri
KBR68H
(CF)
(CF)








